Mengenal Masjid Djinguereber : Warisan Sejarah Milik Mansa Musa

Masjid Djinguereber merupakan warisan peninggalan pada masa kejayaan Mansa Musa. Masjid itu dibangun pada tahun 1372. Konon, bangunan suci tersebut dijadikan tempat pembelajaran Islam terbesar di Kota Timbuktu. Kota yang terletak di Mali, Afrika Barat tersebut dibangun pada masa suku Tuareg di awal abad ke-10. Timbuktu menjadi pusat penyebaran Islam terbesar pada abad ke-15 hingga ke-18 di seluruh penjuru Afrika.

Sejarah Masjid Djinguereber

Terdapat tiga masjid bersejarah yaitu Djinguereber, Sankroe, dan Sidi Yahia. Ketiganya dijuluki sebagai oasis di padang Timbuktu dan menjadi tempat tinggal bagi para pelajar yang menimba ilmu disana. Selain memiliki tiga masjid bersejarah, kota Timbuktu juga dikenal sebagai tempat ditulisnya ratusan ribu manuskrip ilmu pengetahuan, peradaban Islam yang pesat, serta perdagangan.

Menjadi salah satu masjid yang masih berfungsi hingga kini di kota Timbuktu, Masjid Djinguereber adalah satu diantara tiga masjid yang membentuk University of Timbuktu. Pembangunan dari masjid tersebut juga dinilai sangat unik. Mansa Musa menyewa seorang arsitek dari Andalusia untuk membangun Masjid Djinguereber. Hampir seluruh bagian dari masjid itu dibangun dari lumpur, jerami, dan kayu.

Polemik di Kota Timbuktu

Namun dibalik kejayaan Masjid Djinguereber, terdapat berbagai macam polemik yang terjadi. Berbagai perang dan konflik turut terjadi selama delapan abad terakhir. Masjid tersebut menjadi saksi konflik pada tahun 2012. Dimana kelompok Islam militan merebut kota Timbuktu dan mulai meneror penduduk setempat.

Setelah mereka berhasil menguasai kota, para kelompok Islam militan tersebut segera membuat dan menegakkan hukum Syariah versi mereka, yang mana hukum itu dinilai sangat kejam oleh penduduk. Bentuk kekejaman kelompok tersebut adalah saat mereka tanpa ragu dan rasa bersalah melempari para wanita disana dengan batu, karena tidak mengenakan pakaian yang dianggap layak dan sesuai ajaran agama versi kelompok Islam militan.

Tidak hanya itu saja, para militan pun dengan kejinya memotong tangan musisi yang tertangkap melanggar peraturan totaliter atas semua bentuk musik. Para militan itu juga menghancurkan kuburan tujuh orang muslim yang dianggap suci oleh penduduk setempat dengan cangkul dan kapak. Mereka berpendapat bahwa seluruh artefak kuno tersebut dilarang oleh agama.

Masjid Djinguereber pun turut mengalami kerusakan yang diakibatkan pihak militan. Akhirnya di tahun 2013, pihak tentara Prancis ditugaskan untuk membebaskan kota Timbuktu dari kekejaman yang dilakukan para kelompok Islam militan. Setelah tragedi itu, Masjid Djinguereber pun mulai dipulihkan kembali. Para penduduk setempat juga berangsur membaik. Namun mereka tidak akan pernah melupakan sejarah keji tersebut.

Walaupun Masjid Djinguereber masuk daftar Situs Warisan Dunia milik UNESCO, namun kota Timbuktu tetap saja sangat sulit dijangkau bila ingin berkunjung kesana. Karena dapat dipastikan menggunakan transportasi komersil pun hampir mustahil bisa Anda jangkau. Konon katanya, jika Anda ingin mengunjungi kota Timbuktu hanya bisa menggunakan perahu dan unta. Namun hal tersebut belum bisa dipastikan.

Nah itu saja artikel yang dapat disampaikan mengenai sejarah Masjid Djinguereber yang mana masjid tersebut merupakan bukti peninggalan Mansa Musa. Bisa dibayangkan seberapa banyak harta yang dimiliki Mansa Musa hingga bisa memakmurkan kota Timbuktu dan menyewa arsitek Andalusia untuk membangun masjid Djinguereber dengan bayaran berupa 200 kilogram emas.

Untuk informasi lainnya mengenai Mansa Musa juga bisa Anda cari melalui laman situs https://www.cekaja.com/info/mansa-musa-orang-paling-tajir-melintir-yang-bagi-bagi-emas/. Di CekAaja.com juga telah tersedia artikel-artikel lainnya seputar kehidupan, salah satu yang paling diminati mengenai finansial. Jadi tunggu apa lagi? Segera buka dan kunjungi websitenya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *